Kamis, 04 Juni 2020

Chapter 8: Diary April

Chapter 8

Diary April

 

A

ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuhkan kue pai buatan Bunda ke sungai. Seharusnya aku tak memberinya untuk makan siang tadi. Aku tidak suka!

Kubuka halaman lain secara acak, sampai kutemukan sebuah halaman yang dilipat-lipat membentuk segitiga. Aku khawatir ini adalah sesuatu yang sangat rahasia baginya. Bila aku membacanya tanpa izin, kedekatan yang baru kami buat bisa musnah.

“Boleh aku membukanya?”

Ia memandang dan berfikir sejenak. Sepertinya ini sesuatu yang begitu rahasia. Namun ia mengangguk sambil tersenyum padaku. Sekarang adalah senyum yang indah dan tulus. Dia suka bila aku membaca halaman ini. Dan ini adalah tujuan mengapa aku disuruh membaca ini.

Aku cinta

Ma dan Pa

 

Aku mimpi buruk malam ini. Mimpi yang waktu itu. Saat orang pada berlari dan aku tak lihat Ma dan Pa di dalam api yang dingin.

 

Bahasa anak kecilnya yang terlalu jujur belum bisa kupahami. Api yang dingin? Semua api pasti panas. Ada apa dengan anak ini? Mungkin ini peribahasa atau majas, tapi bagaiman anak susia 4 tahun mengatakan bahkan menulis hal-hal yang dilebih-lebihkan?

Ini seperti teka-teki. Bila dilihat dari arti ini punya makna yang bukan sebenarnya. Tapi ini bisa pula bermakna sebenarnya. Layaknya keadaan April saat itu, mungkin kebakaran ketika hari berangin? Tak mungkin. Atau tabrakan antar kereta api yang menyebabkan kereta itu terguling dan terbakar?

Hah. Sudah pergi sana pikiran yang tidak logis. Bisa saja diriku bertanya langsung apa yang terjadi padanya hari itu namun aku takut itu membuatnya sedih.

Kutatap langit mungkin aku mendapat ilham dari Allah, dan yang kulihat adalah matahari yang hampir diatas kepalaku. Tak terasa waktu berlalu sebentar lagi Zuhur.

Buku kecil bersampul merah ini kututup dan kuserahkan kembali pada pemiliknya. April mengambilnya dan menatapku penuh berharap agar aku mengomentari isi diary-nya.

“Bagaimana kalau kita pulang sekarang?” kuulurkan tangan padanya. “..aku masih ingin tahu lebih banyak tentang teman baruku ini di rumah. Orang itu kau, April.”

Ia membuka kembali bukunya dan menulis sesuatu lagi. Jika buku ini adalah orang pasti ia sudah protes mengapa dibulak-balik. Itu memusingkan.

Tapi aku tak bisa membawa diaryku. Nanti orang-orang dirumah membacanya.

Benar-benar ia menaruh kepercayaan padaku. Orang yang telah lama ia kenal tak diperbolehkan membaca diarynya. Wah mungkin aku punya wajah yang dapat dipercaya.

“Tak apa. Aku tak suka memaksa. Itu barangmu bukan barangku.”


Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...