Diary April
|
A |
ku sebal dengan
Samuel!! Ia menjatuhkan kue pai buatan Bunda ke sungai. Seharusnya aku tak
memberinya untuk makan siang tadi. Aku tidak suka!
Kubuka halaman lain secara acak,
sampai kutemukan sebuah halaman yang dilipat-lipat membentuk segitiga. Aku
khawatir ini adalah sesuatu yang sangat rahasia baginya. Bila aku membacanya
tanpa izin, kedekatan yang baru kami buat bisa musnah.
“Boleh aku membukanya?”
Ia memandang dan berfikir
sejenak. Sepertinya ini sesuatu yang begitu rahasia. Namun ia mengangguk sambil
tersenyum padaku. Sekarang adalah senyum yang indah dan tulus. Dia suka bila
aku membaca halaman ini. Dan ini adalah tujuan mengapa aku disuruh membaca ini.
Aku cinta
Ma dan Pa
Aku mimpi buruk malam ini. Mimpi
yang waktu itu. Saat orang pada berlari dan aku tak lihat Ma dan Pa di dalam
api yang dingin.
Bahasa anak
kecilnya yang terlalu jujur belum bisa kupahami. Api yang dingin? Semua api
pasti panas. Ada apa dengan anak ini? Mungkin ini peribahasa atau majas, tapi
bagaiman anak susia 4 tahun mengatakan bahkan menulis hal-hal yang
dilebih-lebihkan?
Ini seperti teka-teki.
Bila dilihat dari arti ini punya makna yang bukan sebenarnya. Tapi ini bisa
pula bermakna sebenarnya. Layaknya keadaan April saat itu, mungkin kebakaran
ketika hari berangin? Tak mungkin. Atau tabrakan antar kereta api yang
menyebabkan kereta itu terguling dan terbakar?
Hah. Sudah pergi
sana pikiran yang tidak logis. Bisa saja diriku bertanya langsung apa yang
terjadi padanya hari itu namun aku takut itu membuatnya sedih.
Kutatap langit
mungkin aku mendapat ilham dari Allah, dan yang kulihat adalah matahari yang
hampir diatas kepalaku. Tak terasa waktu berlalu sebentar lagi Zuhur.
Buku kecil
bersampul merah ini kututup dan kuserahkan kembali pada pemiliknya. April
mengambilnya dan menatapku penuh berharap agar aku mengomentari isi diary-nya.
“Bagaimana kalau kita pulang
sekarang?” kuulurkan tangan padanya. “..aku masih ingin tahu lebih banyak
tentang teman baruku ini di rumah. Orang itu kau, April.”
Ia membuka
kembali bukunya dan menulis sesuatu lagi. Jika buku ini adalah orang pasti ia
sudah protes mengapa dibulak-balik. Itu memusingkan.
Tapi aku tak
bisa membawa diaryku. Nanti orang-orang dirumah membacanya.
Benar-benar ia
menaruh kepercayaan padaku. Orang yang telah lama ia kenal tak diperbolehkan
membaca diarynya. Wah mungkin aku punya wajah yang dapat dipercaya.
“Tak apa. Aku tak suka memaksa.
Itu barangmu bukan barangku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar