Kamis, 04 Juni 2020

Chapter 7: Bukit Keheningan

Chapter 7

Bukit Keheningan

 

H

ahh heuhhh. Nafasku terengah-engah. Memanjat bukit terjal ini sangat susah bagiku. Tak terbayang bagaimana anak kecil seperti April bisa menaikinya. Tadipun, tak terhitung berapa kali diriku terjatuh. Batu-batu berlumut dan tanah yang licin membuat keseimbangan sekaligus nyaliku hilang entah kemana. Tanganku masih erat memegang tali hingga sampai di puncak.

“Hai. April.” ucapku basa-basi.

Gadis kecil itu hanya tersenyum tipis sesaat kemudian bibir yang semerah beri itu turun melengkung kebawah. Dia hanya memberi senyum sekilas. Aku yakin begitu menyedihkan kehidupannya sehingga tersenyum terasa berat.

Kakiku begitu lega telah berpijak pada dataran rumput yang tidak miring lagi. Dari tali, peganganku berpindah ke dada seolah-olah menahan agar paru-paru tidak keluar. Seperti dari awal kami bertemu, dia hanya diam. Bila ia bicara kata-katanya tak pernah jelas. Aku jadi ingin lebih tahu tentang dirinya.

Setelah melihat kedatanganku, ia berpaling dan melanjutkan kembali pekerjaannya: memetik beri. Ia sama sekali tak mempedulikan keberadaan seseorang disini. Lama kelamaan aku yang menjadi tidak enak, karena seharusnya dirikulah yang mengencerkan susana yang tegang ini. Inilah penyakitku dari dulu, tidak mudah akrab dengan orang lain.

Terbesit dalam pikiranku sebesar apakah musibah yang menimpanya sehingga ia menjadi macam orang gagu. Ya Allah, sembuhkanlah anak ini supaya dia bisa berkomunikasi dan mencurahkan isi hatinya pada orang lain.

Tangan mungil itu mengambil satu-persatu beri semak yang tempatnya rendah kedalam keranjang kecil. Rambutnya begitu lucu membuatku ingin menyentuhnya. Cocok sekali rambut pendek lurus yang lembut untuk anak seumurannya. Jika aku boleh mendandaninya, aku akan menambahkan bando berwarna kuning motif bunga.

“Kau sering melakukan ini ya?” aku berlutut agar bisa sejajar dengan wajahnya.

Ia mengangguk. Untuk orang yang jarang bicara sebaiknya kau hanya memberi pertanyaan yang jawabannya ya atau tidak. Itu membuatmu tak perlu menunggu lama mendengar yang akan ia katakan.

Kembali ketujuanku kesini. aku bangun dan mencari blok rumahku dari berbagai pemandangan luas yang indah ini. Ditempat asalku dulu sebelum di Blok, aku tinggal di kawasan gurun yang sudah sangat berantakkan. Melihat rumah baruku diblok saja aku sudah merasa itu adalah tempat yang paling nyaman. Ternyata, disini aku salah. Kau bisa melihat tempat dari seluruh penjuru Den Village. Mulai dari daerah padat oleh rumah sampai tempat yang masih ditutupi pohon-pohon lebat seperti disini. Guratan biru panjang membentang diantara dataran hijau yang menguning terpantul matahari. Banyak bangunan yang sebagian hanya terlihat atap-atapnya. Semua sebesar semut dan disini aku seolah jadi raksasa. Subhanallah. Indahnya.

Tak menyenangkan dan terasa gersang bila hubungan dengan seseorang sangat canggung. Semua terasa hening dan sepi. Dalam diamku aku mencari suatu pertanyaan yang mungkin kebetulan lewat dalam benak.

“Ini tempat favoritmu?”

Dia mengangguk pelan tanpa melihatku. Tak pernah lepas tatapan mata bulatnya pada setiap beri yang ia ambil. Lama kelamaan aku seolah-olah tak berguna kalau hanya diam menatapi pemandangan sedangkan anak kecil disebelahku ini terus bekerja dengan serius.

“Boleh aku membantu?” mendengar itu tangannya berhenti dan turun menyentuh keranjang. Tatapannya berpindah ke mataku. Mata yang biru dan tajam. Melotot sambil menengadah agar bisa menatapku langsung. Aku seolah diintimidasi olehnya. Orang-orang ditempat ini memang sulit ditebak.

Dengan gerakan yang membuatku kaget, ia menaruh keranjang penuh beri ditanah dan berlari kesebuah pohon ceri. Apa aku membuatnya sedih?

Dan dugaanku salah. Ia kembali kearahku setelah mengambil buku kecil dan pena tua dari lubang ditanah, samping pohon itu.

Aku diam dan saat itulah dengan secepat kilat ia membuka buku itu didepanku dan menahan sebuah halaman sebelum ia menulis sesuatu didalamnya. Dia menatapku kemudian merobek kertas tanpa ragu-ragu.

Kuambil kertas itu setelah keheranan dengan sikapnya. ‘Boleh’. Aku menatapnya kembali dan tak percaya. Sungguh luar biasa ada anak 4 tahun yang bisa menulis dan tahu maknanya. Aku saja belajar membaca pada umur 6 tahun baru setelah beberapa bulan aku menulis.

“Kau bisa membaca?”

Ia mengangguk

“Menulis?”

Sekali lagi ia mengangguk.

Mungkin karena lelah menaik turunkan kepalanya ia menulis sesuatu lagi.

‘Mau lihat buku harianku?’ aku diam sebentar. Ada anak yang sejujur dan sangat percaya orang lain seperti dia. Semua orang akan tidak suka bila kesehariannya diketahui orang asing. Sedangkan gadis kecil ini, keyakinan tersirat di wajahnya. Aku takjub.

“Tentu aku mau.” Aku tersenyum. Ini adalah peluang mengetahui penyebab ia tak bisa bicara. Jujur saja aku kasihan pada anak ini. Bukan manusia pastinya kalau tak punya rasa simpati.

Kubuka halaman pertama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...