Bukit Keheningan
|
H |
ahh heuhhh. Nafasku
terengah-engah. Memanjat bukit terjal ini sangat susah bagiku. Tak terbayang
bagaimana anak kecil seperti April bisa menaikinya. Tadipun, tak terhitung
berapa kali diriku terjatuh. Batu-batu berlumut dan tanah yang licin membuat
keseimbangan sekaligus nyaliku hilang entah kemana. Tanganku masih erat
memegang tali hingga sampai di puncak.
“Hai. April.” ucapku basa-basi.
Gadis kecil itu
hanya tersenyum tipis sesaat kemudian bibir yang semerah beri itu turun
melengkung kebawah. Dia hanya memberi senyum sekilas. Aku yakin begitu
menyedihkan kehidupannya sehingga tersenyum terasa berat.
Kakiku begitu lega
telah berpijak pada dataran rumput yang tidak miring lagi. Dari tali,
peganganku berpindah ke dada seolah-olah menahan agar paru-paru tidak keluar.
Seperti dari awal kami bertemu, dia hanya diam. Bila ia bicara kata-katanya tak
pernah jelas. Aku jadi ingin lebih tahu tentang dirinya.
Setelah melihat
kedatanganku, ia berpaling dan melanjutkan kembali pekerjaannya: memetik beri.
Ia sama sekali tak mempedulikan keberadaan seseorang disini. Lama kelamaan aku
yang menjadi tidak enak, karena seharusnya dirikulah yang mengencerkan susana
yang tegang ini. Inilah penyakitku dari dulu, tidak mudah akrab dengan orang
lain.
Terbesit dalam
pikiranku sebesar apakah musibah yang menimpanya sehingga ia menjadi macam
orang gagu. Ya Allah, sembuhkanlah anak ini supaya dia bisa berkomunikasi dan
mencurahkan isi hatinya pada orang lain.
Tangan mungil itu mengambil
satu-persatu beri semak yang tempatnya rendah kedalam keranjang kecil.
Rambutnya begitu lucu membuatku ingin menyentuhnya. Cocok sekali rambut pendek
lurus yang lembut untuk anak seumurannya. Jika aku boleh mendandaninya, aku
akan menambahkan bando berwarna kuning motif bunga.
“Kau sering melakukan ini ya?”
aku berlutut agar bisa sejajar dengan wajahnya.
Ia mengangguk. Untuk orang yang
jarang bicara sebaiknya kau hanya memberi pertanyaan yang jawabannya ya atau
tidak. Itu membuatmu tak perlu menunggu lama mendengar yang akan ia katakan.
Kembali
ketujuanku kesini. aku bangun dan mencari blok rumahku dari berbagai
pemandangan luas yang indah ini. Ditempat asalku dulu sebelum di Blok, aku
tinggal di kawasan gurun yang sudah sangat berantakkan. Melihat rumah baruku
diblok saja aku sudah merasa itu adalah tempat yang paling nyaman. Ternyata,
disini aku salah. Kau bisa melihat tempat dari seluruh penjuru Den Village.
Mulai dari daerah padat oleh rumah sampai tempat yang masih ditutupi
pohon-pohon lebat seperti disini. Guratan biru panjang membentang diantara
dataran hijau yang menguning terpantul matahari. Banyak bangunan yang sebagian
hanya terlihat atap-atapnya. Semua sebesar semut dan disini aku seolah jadi
raksasa. Subhanallah. Indahnya.
Tak menyenangkan
dan terasa gersang bila hubungan dengan seseorang sangat canggung. Semua terasa
hening dan sepi. Dalam diamku aku mencari suatu pertanyaan yang mungkin kebetulan
lewat dalam benak.
“Ini tempat favoritmu?”
Dia mengangguk pelan tanpa
melihatku. Tak pernah lepas tatapan mata bulatnya pada setiap beri yang ia
ambil. Lama kelamaan aku seolah-olah tak berguna kalau hanya diam menatapi
pemandangan sedangkan anak kecil disebelahku ini terus bekerja dengan serius.
“Boleh aku membantu?” mendengar
itu tangannya berhenti dan turun menyentuh keranjang. Tatapannya berpindah ke
mataku. Mata yang biru dan tajam. Melotot sambil menengadah agar bisa menatapku
langsung. Aku seolah diintimidasi olehnya. Orang-orang ditempat ini memang
sulit ditebak.
Dengan gerakan yang membuatku
kaget, ia menaruh keranjang penuh beri ditanah dan berlari kesebuah pohon ceri.
Apa aku membuatnya sedih?
Dan dugaanku salah. Ia kembali
kearahku setelah mengambil buku kecil dan pena tua dari lubang ditanah, samping
pohon itu.
Aku diam dan saat itulah dengan
secepat kilat ia membuka buku itu didepanku dan menahan sebuah halaman sebelum
ia menulis sesuatu didalamnya. Dia menatapku kemudian merobek kertas tanpa
ragu-ragu.
Kuambil kertas itu setelah
keheranan dengan sikapnya. ‘Boleh’. Aku menatapnya kembali dan tak percaya.
Sungguh luar biasa ada anak 4 tahun yang bisa menulis dan tahu maknanya. Aku
saja belajar membaca pada umur 6 tahun baru setelah beberapa bulan aku menulis.
“Kau bisa membaca?”
Ia mengangguk
“Menulis?”
Sekali lagi ia mengangguk.
Mungkin karena lelah menaik
turunkan kepalanya ia menulis sesuatu lagi.
‘Mau lihat buku harianku?’ aku
diam sebentar. Ada anak yang sejujur dan sangat percaya orang lain seperti dia.
Semua orang akan tidak suka bila kesehariannya diketahui orang asing. Sedangkan
gadis kecil ini, keyakinan tersirat di wajahnya. Aku takjub.
“Tentu aku mau.” Aku tersenyum. Ini
adalah peluang mengetahui penyebab ia tak bisa bicara. Jujur saja aku kasihan
pada anak ini. Bukan manusia pastinya kalau tak punya rasa simpati.
Kubuka halaman pertama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar