Rabu, 03 Juni 2020

Chapter 1: Keranjang Roti



Chapter 1 : Keranjang Roti

A

ku melangkah menyusuri kota tua Den Village. Menyusuri gang sempit berkelok-kelok yang hanya bisa dilewati dua orang, aku acuh pada setiap kubangan bekas hujan siang tadi. Sore ini kota sering diselimuti kabut. Terutama bila pertengahan bulan. Orang di desa sering menyebut ini pertanda muncul serigala gunung ditepi hutan. Namun aku tidak terlalu memikirkan dan mempedulikannya karena aku tak suka serigala. Diriku sendiri tak pernah pergi ke hutan, apalagi pada malam hari.

Dan langkahku makin lambat, lambat dan akhirnya berhenti didepan toko beretalase. Diatas pintu itu tergantung papan nama yang lumayan besar. Tiap huruf adalah ukiran melengkung penuh seni diatas kayu. ‘Scellopp’s Bakery’.

“ Assalamu ‘allaikum.” Tepat sesudah kubuka pintu toko

“ Wa ‘alaikum salam. Sudah kau antarkan roti itu.” Wanita tinggi kurus yang tengah menggilling adonan tepung dengan mesin penggiling besar diatas loyang sebesar meja itu menjawab salam. Dia adalah ibuku.

Kutarik tudung hitam panjang yang menutup setengah wajahku kebelakang. Seorang gadis muslim di Den village akan sedikit minder tentunya bila banyak berkeliaran diantara perumahan orang katolik. Islam disini adalah minoritas. Sedangkan aku adalah pengantar roti dari toko ala timur tengah. Toko ibuku ini baru saja selesai dibangun minggu lalu dan belum terlalu dikenal penduduk. Jadi agar orang-orang tidak terlalu curiga pada Islam dan toko roti ini, aku pakai jubah hitam yang menutupi jilbab putih –penunjuk identitas muslimku.

“ kali ini mesti kuantar kemana lagi, Ama?” kuhampiri dia sambil membuka kain yang menutupi keranjang rotan tergantung dilenganku.

Nama Ama adalah panggilan untuk ibu. Dan Pa untuk ayah.

“ Ini agak jauh. Ama khawatir kalau terjadi sesuatu padamu.” Ama mengelap tangan penuh tepung dengan lap yang menggantung dipaku.

“ Tapi Ama harus percaya padaku..”

“- tapi kau harus janji jangan menjawab pertanyaan dari orang asing.” Ia memotong perkataanku. “disana tempat orang-orang katolik dan yahudi yang membenci kita. Ditambah lagi anak-anak remaja yang suka duduk dipinggir jalan.”

“ Jadi ini adalah tantangan pertamaku saat tinggal disini. Ama harus percaya padaku karena aku bisa menjaga amanat.”

Ama menghela nafas kemudian membuangnya perlahan.

“ya. Ama percaya. Dan kau harus berjanji pada Ama. Jangan tunjukkan wajahmu pada lelaki yang tidak baik.”

“ Insya Allah.” Jawabku mantap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...