|
A |
ku melangkah menyusuri kota tua
Den Village. Menyusuri gang sempit berkelok-kelok yang hanya bisa dilewati dua orang,
aku acuh pada setiap kubangan bekas hujan siang tadi. Sore ini kota sering
diselimuti kabut. Terutama bila pertengahan bulan. Orang di desa sering
menyebut ini pertanda muncul serigala gunung ditepi hutan. Namun aku tidak
terlalu memikirkan dan mempedulikannya karena aku tak suka serigala. Diriku
sendiri tak pernah pergi ke hutan, apalagi pada malam hari.
Dan langkahku
makin lambat, lambat dan akhirnya berhenti didepan toko beretalase. Diatas
pintu itu tergantung papan nama yang lumayan besar. Tiap huruf adalah ukiran melengkung
penuh seni diatas kayu. ‘Scellopp’s Bakery’.
“ Assalamu ‘allaikum.” Tepat
sesudah kubuka pintu toko
“ Wa ‘alaikum salam. Sudah kau
antarkan roti itu.” Wanita tinggi kurus yang tengah menggilling adonan tepung
dengan mesin penggiling besar diatas loyang sebesar meja itu menjawab salam.
Dia adalah ibuku.
Kutarik tudung hitam panjang yang
menutup setengah wajahku kebelakang. Seorang gadis muslim di Den village akan
sedikit minder tentunya bila banyak berkeliaran diantara perumahan orang
katolik. Islam disini adalah minoritas. Sedangkan aku adalah pengantar roti
dari toko ala timur tengah. Toko ibuku ini baru saja selesai dibangun minggu
lalu dan belum terlalu dikenal penduduk. Jadi agar orang-orang tidak terlalu
curiga pada Islam dan toko roti ini, aku pakai jubah hitam yang menutupi jilbab
putih –penunjuk identitas muslimku.
“ kali ini mesti kuantar kemana
lagi, Ama?” kuhampiri dia sambil membuka kain yang menutupi keranjang rotan
tergantung dilenganku.
Nama Ama adalah panggilan untuk
ibu. Dan Pa untuk ayah.
“ Ini agak jauh. Ama khawatir
kalau terjadi sesuatu padamu.” Ama mengelap tangan penuh tepung dengan lap yang
menggantung dipaku.
“ Tapi Ama harus percaya padaku..”
“- tapi kau harus janji jangan
menjawab pertanyaan dari orang asing.” Ia memotong perkataanku. “disana tempat
orang-orang katolik dan yahudi yang membenci kita. Ditambah lagi anak-anak
remaja yang suka duduk dipinggir jalan.”
“ Jadi ini adalah tantangan
pertamaku saat tinggal disini. Ama harus percaya padaku karena aku bisa menjaga
amanat.”
Ama menghela nafas kemudian
membuangnya perlahan.
“ya. Ama percaya. Dan kau harus
berjanji pada Ama. Jangan tunjukkan wajahmu pada lelaki yang tidak baik.”
“ Insya Allah.” Jawabku mantap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar