Rabu, 03 Juni 2020

Chapter 2: Saint Block

Chapter 2 

Saint Block : Blok Suci

K

ugenggam secarik kertas bertuliskan alamat konsumen. Faith street, Saint Block no. 27. 

Pelan-pelan kuselipkan kertas tipis ini pada mushaf yang selalu kubawa kemana-mana. Kumasukkan pada sudut keranjang sebelum Ama mengisi seluruh ruang keranjang dengan roti blueberry hangat baru keluar dari oven. Dibungkus rapi dengan plastik putih transparan dan tanpa perekat apapun karena Ama percaya bila dibungkus dengan rapat pelanggan bisa langsung menikmati roti hangat tanpa mesti repot membuka bungkusnya.

“ Assalamu ‘alaikum.” Kubuka pintu dan bergegas keluar sebelum Ama sempat menjawab salam.

Tanpa ragu kuambil langkah seribu menuju Jalan Utama. Di Jalan ini, kau bisa dengan mudah menemukan berbagai jalan yang menuju ke block yang bercabang-cabang. Jalan Utama lurus dan lebar bahkan bisa untuk dilewati 3 kereta sekaligus. Di sepanjang sisi jalan aspal abu-abu ini berderet jalan yang kecil berkelok seperti gang. Disetiap gang terdapat papan kayu besar yang menunjukan namanya. Nama diambil dari sifat maupun kebiasaan penduduk. Seperti Jl. Oregon, Jl. Neil’s, dan inilah yang kucari-cari.

Jl. Faith.

Kupelankan langkah untuk bersiap-siap. Bismillah. Aku akan masuk ke pemukiman orang kristiani untuk mengantar amanat Ama. Kabut makin lebat. Jalan ini sangat sepi. Bahkan aku hanya ditemani angin twilight yang berbisik menerpa pelan tudung hitamku. Daerah ini dekat dengan hutan dibagian utaranya. Diriku seakan bicara bahwa aku akan segera pergi kesana.

Aku menggeleng pelan. Menghapus pikiran gila yang tanpa permisi masuk kepikiran. Kullirik arloji bertali kulit yang melilit lengan kanan. 4.30 sore. Ya Allah, izinkan aku sampai dirumah sebelum maghrib.

~ ~ ~ * ~ ~ ~

Aku masuk kedalam gang. Langkahku menggema akibat jarak bangunan yang padat dan saling berdekatan. Aku berhenti sebentar saking kagetnya melihat sekitar 6 pemuda mengobrol dengan gaya bahasa kasar dan tak pantas. Pakaian mereka hanya kaos oblong bergambar tengkorak dan devil. Celana mereka dirobek pensil disana-sini. Inikah yang namanya saint? Jarak mereka denganku sekitar 5 rumah lagi.

Dengan getir kutelan ludah sambil menarik ujung tudung sampai hampir tertutup seluruh wajahku. Kusebut nama-Nya berulang kali dan melangkah pelan namun khawatir.

Saat aku berpapasan dengan mereka, untungnya aku hanya dianggap angin lewat oleh mereka. Tapi tiba-tiba angin sungguhan benar-benar muncul. Angin kencang menerpa kearah yang berlawanan dengan jalanku. Tanpa kusangkan dan kuharapkan, tudung hitamku ditarik  angin kebelakang. Wajahku sampai seluruh bagian kepalaku yang terbalut kerudung putih terlihat. Sekarang baru kurasakan dinginnya angin desa langsung mengusap kepalaku.

Mereka melihat, menatap, dan mengamatiku. Aku berkeringat dingin, menggigit bibir, dan mengambil ancang-ancang sebelum mereka berteriak dengan suara parau.

“Dia muslim!!”

Kutarik kembali tudung hitamku kedepan sambil berlari. Semakin cepat aku berlari semakin liar mereka mengejarku. Nafasku tidak karuan. Jantungku berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Kugenggam makin erat gagang keranjang rotan yang tergoncang-goncang isinya. Semoga isinya tidak berubah sehingga aku tak perlu memberi uang ganti rugi pelanggan.

Allahu Akbar. Lindungilah aku. Bila aku terus berlari tak sepadan dengan kecepatan laki-laki. Aku tahu! Disetiap blok pasti ada pasar. Aku harus berlari kepasar agar mereka kesulitan mengejarku. Aku berbelok kearah himpitan apartemen dan melewati banyak jemuran. Kepalaku menengok kebelakang. Mereka masih mengejarku namun dengan terhambat oleh jemuran basah yang lebar menggantung belum kering 2 hari. Untungnya tubuhku kecil. Aku melewati setiap jemuran dengan menunduk.

Aku lelah disaat memasuki pasar. Kakiku sudah pegal dan aku serasa ingin pingsan. Namun langkah kaki yang cepat dan banyak dibelakang membuat adrenalinku tidak bisa berhenti.

Didepanku seorang pria tambun yang membawa tumpukan jeruk. Aku tak bisa menghindar dan tanpa sengaja aku menubruknya. Belasan jeruk terlempar sebelum tersebar dijalan bata.

“ Maaf...” kakiku tak berhenti mengingat 6 pemuda yang berlari dibelakangku. entah apa yang membuat warga disini kompak, diantara pemuda itu ada yang sepanjang jalan berteriak “dia orang Islam, dia orang Islam.!” Sontak pria pembawa jeruk dan beberapa pembantunya juga mengejarku.

Aku tak kuat lagi. Kakiku menjadi lemas. Pandanganku buyar dan ada sesuatu seperti kunang-kunang beterbangan dalam penglihatanku. Telingaku seolah tak berfungsi. Semua makin gelap, lebih gelap, sampai aku tak dapat melihat apapun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...