Saint Block : Blok Suci
|
K |
ugenggam secarik kertas
bertuliskan alamat konsumen. Faith street, Saint Block no. 27.
Pelan-pelan
kuselipkan kertas tipis ini pada mushaf yang selalu kubawa kemana-mana.
Kumasukkan pada sudut keranjang sebelum Ama mengisi seluruh ruang keranjang
dengan roti blueberry hangat baru keluar dari oven. Dibungkus rapi dengan
plastik putih transparan dan tanpa perekat apapun karena Ama percaya bila
dibungkus dengan rapat pelanggan bisa langsung menikmati roti hangat tanpa
mesti repot membuka bungkusnya.
“ Assalamu ‘alaikum.” Kubuka
pintu dan bergegas keluar sebelum Ama sempat menjawab salam.
Tanpa ragu
kuambil langkah seribu menuju Jalan Utama. Di Jalan ini, kau bisa dengan mudah
menemukan berbagai jalan yang menuju ke block yang bercabang-cabang. Jalan
Utama lurus dan lebar bahkan bisa untuk dilewati 3 kereta sekaligus. Di
sepanjang sisi jalan aspal abu-abu ini berderet jalan yang kecil berkelok
seperti gang. Disetiap gang terdapat papan kayu besar yang menunjukan namanya.
Nama diambil dari sifat maupun kebiasaan penduduk. Seperti Jl. Oregon, Jl.
Neil’s, dan inilah yang kucari-cari.
Jl. Faith.
Kupelankan
langkah untuk bersiap-siap. Bismillah. Aku akan masuk ke pemukiman orang
kristiani untuk mengantar amanat Ama. Kabut makin lebat. Jalan ini sangat sepi.
Bahkan aku hanya ditemani angin twilight yang berbisik menerpa pelan
tudung hitamku. Daerah ini dekat dengan hutan dibagian utaranya. Diriku seakan
bicara bahwa aku akan segera pergi kesana.
Aku menggeleng
pelan. Menghapus pikiran gila yang tanpa permisi masuk kepikiran. Kullirik
arloji bertali kulit yang melilit lengan kanan. 4.30 sore. Ya Allah, izinkan
aku sampai dirumah sebelum maghrib.
~ ~ ~ * ~ ~ ~
Aku masuk
kedalam gang. Langkahku menggema akibat jarak bangunan yang padat dan saling
berdekatan. Aku berhenti sebentar saking kagetnya melihat sekitar 6 pemuda mengobrol
dengan gaya bahasa kasar dan tak pantas. Pakaian mereka hanya kaos oblong
bergambar tengkorak dan devil. Celana mereka dirobek pensil disana-sini.
Inikah yang namanya saint? Jarak mereka denganku sekitar 5 rumah lagi.
Dengan getir
kutelan ludah sambil menarik ujung tudung sampai hampir tertutup seluruh
wajahku. Kusebut nama-Nya berulang kali dan melangkah pelan namun khawatir.
Saat aku
berpapasan dengan mereka, untungnya aku hanya dianggap angin lewat oleh mereka.
Tapi tiba-tiba angin sungguhan benar-benar muncul. Angin kencang menerpa kearah
yang berlawanan dengan jalanku. Tanpa kusangkan dan kuharapkan, tudung hitamku
ditarik angin kebelakang. Wajahku sampai
seluruh bagian kepalaku yang terbalut kerudung putih terlihat. Sekarang baru
kurasakan dinginnya angin desa langsung mengusap kepalaku.
Mereka melihat,
menatap, dan mengamatiku. Aku berkeringat dingin, menggigit bibir, dan
mengambil ancang-ancang sebelum mereka berteriak dengan suara parau.
“Dia muslim!!”
Kutarik kembali
tudung hitamku kedepan sambil berlari. Semakin cepat aku berlari semakin liar
mereka mengejarku. Nafasku tidak karuan. Jantungku berdetak 2 kali lebih cepat
dari biasanya. Kugenggam makin erat gagang keranjang rotan yang
tergoncang-goncang isinya. Semoga isinya tidak berubah sehingga aku tak perlu
memberi uang ganti rugi pelanggan.
Allahu Akbar.
Lindungilah aku. Bila aku terus berlari tak sepadan dengan kecepatan laki-laki.
Aku tahu! Disetiap blok pasti ada pasar. Aku harus berlari kepasar agar mereka
kesulitan mengejarku. Aku berbelok kearah himpitan apartemen dan melewati
banyak jemuran. Kepalaku menengok kebelakang. Mereka masih mengejarku namun
dengan terhambat oleh jemuran basah yang lebar menggantung belum kering 2 hari.
Untungnya tubuhku kecil. Aku melewati setiap jemuran dengan menunduk.
Aku lelah disaat
memasuki pasar. Kakiku sudah pegal dan aku serasa ingin pingsan. Namun langkah
kaki yang cepat dan banyak dibelakang membuat adrenalinku tidak bisa berhenti.
Didepanku seorang pria tambun
yang membawa tumpukan jeruk. Aku tak bisa menghindar dan tanpa sengaja aku
menubruknya. Belasan jeruk terlempar sebelum tersebar dijalan bata.
“ Maaf...” kakiku tak berhenti
mengingat 6 pemuda yang berlari dibelakangku. entah apa yang membuat warga
disini kompak, diantara pemuda itu ada yang sepanjang jalan berteriak “dia
orang Islam, dia orang Islam.!” Sontak pria pembawa jeruk dan beberapa
pembantunya juga mengejarku.
Aku tak kuat
lagi. Kakiku menjadi lemas. Pandanganku buyar dan ada sesuatu seperti
kunang-kunang beterbangan dalam penglihatanku. Telingaku seolah tak berfungsi.
Semua makin gelap, lebih gelap, sampai aku tak dapat melihat apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar