Si Kembar
|
K |
utelusuri hutan ini sampai
kutemukan bukit. Kutampar daun-daun yang menghalangi jalan, menunduk dari
jaring laba-laba sebesar tangan, sampai melompat dari hewan-hewan melata
dimana-mana. Semoga saja di sini tak ada singa atau babi hutan melintas
di depanku.
Saat kurasakan sesuatu di atas
tanah bertumpuk daun.
Shreeeeet.
Muncul jaring dari bawah
pijakanku. Benda ini mengelilingi dan membungkus tubuhku sebelum ikatannya semakin keras. Aku terduduk dalam
jaring ini dan tertarik ke atas sampai terpatuk pada dahan pohon.
“Apa ini?” aku memekik.
“...siapapun, tolong!” jari-jariku menarik sela-sela jaring.
Tak lama muncul sosok berambut
pirang berkepang dua menggenggam pisau ditangan kanannya. Masya Allah, apakah
aku dalam perangkap mereka dan hendak dibunuh?
“Jill?”
Ia mengangkat pisau seperti
hendak melemparnya kearahku. Matanya melotot dan ia benar-benar melesatkan
pisaunya padaku. Benda tajam itu memantulkan cahaya dari sinar fajar.
“Laa ilaaha illa Allah!”
Brukk!
Tubuhku terasa terguncang sebelum
aku jatuh ketanah bersama dengan jaring yang masih menjerat tubuhku. Kuraba
badanku yang masih utuh. Aku masih hidup! Alhamdulillah. Ternyata Jill hanya
memotong tali yang menggantungkan jaring dengan dahan pohon.
“Wow, kau tak apa kawan?” rambut
kepangnya yang panjang terguncang-guncang ketika berlari mendekatiku.
“Seharusnya kau lebih berhati-hati.” Ia berlutut kemudian menarik sela-sela
jaring dan memotongnya secara berderet kebawah sehingga ada lubang besar untuk
diriku keluar.
“Hei, kenapa kau merusak jaring
buatanku?” sebuah suara terdengar dari atas pohon.
“Lumayan bagus untukmu. Tapi aku
bisa memotong jaringmu hanya dengan sekali tebasan.” Jill menengadah pada
rimbunan daun diatasnya. “Cepat turun,
pengecut.”
Terlihat sesuatu
muncul dari atas dan turun dengan satu lompatan ketanah. Dilengannya
digulungkan bermeter-meter tali tambang kecil yang memanjang sampai hasta.
Rambut keemasan itu serasi dengan rambut perempuan disebelahku. Sudah
lengkaplah saudara ini. Jack dan Jill.
Aku keluar dari
jaring dan ikut berdiri di samping Jill.
“Sekarang aku harus membuat lagi
selama sebulan!” ia menggerutu sambil menunjuk pada jaring yang telah terkoyak.
“Kalian sedang apa?” Kerudung
makin kutarik kedepan.
“Biasa. Berburu sambil berlatih.”
Jill berkacak pinggang.
“Ngomong-ngomong apa yang kau
ucapkan tadi? Tepatnya sebelum Jill melempar pisaunya.” Jack menarik jaringnya
yang terlihat tak bisa digunakan lagi. Aku agak bergeser dari tempat.
“Emm. Anu... itu adalah kalimat
Tuhanku.”
“ahak.” Jill seolah menahan tawa.
“Kau punya tuhan?”
“T-tentu. Semua isi alam semesta
ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.” Gayaku berdakwah didepan mereka.
“Allah Tuhanku.”
Tawa Jill
meledak. Sepertinya ia tak tahan lagi menyumbat tawa dengan tangan menutup
mulutnya. Ia terpingkal-pingkal sampai berguling di tanah.
“Hah. Lucu juga. Ternyata
penduduk blok pikiran mereka masih terikat pada hal seperti itu.” Jack memutar
matanya.
“Allah Subhana Wa Ta’ala.” Ucapku
dengan berani.
Dengan sekejap tawa Jill berhenti
dan ia membuka matanya. Aku terkejut melihat sikapnya yang sangat drastis.
Sekarang Jack pun menatapku dalam.
“Kau..”
“-Muslim?”
Mereka saling bertatapan.
“Ada apa?” aku memiringkan kepala.
“Rasanya pernah seorang muslim
datang kerumah kami dan mengucapkan kata itu.” Jack mengusap keningnya.
“...ya, dia adalah orang yang
berpengaruh pada kehidupan kami tapi aku tak ingat kapan dan sedang apa dia
waktu itu.” Jill melanjutkan.
“Kalimat ‘Allah Subhana Wa
Ta’ala’? ”
“Ya! Kau ingat siapa yang berkata
seperti itu Jack?”
“Entah. Itu sudah lama sekali.
Kita masih kecil waktu itu.”
~ ~ ~ * ~ ~ ~
“Benar ini bukitnya?” kupandangi
jalanan terjal menanjak.
“Tentu. Kau bisa melihat
pemandangan dari atas sana. Nanti diatas kau akan bertemu April. Ia pasti
sedang memetik beri segar diatas.” Jack mengangkat lutut pada batu sambil
melihat ke atas.
Jill melingkarkan kedua tangan
diantara mulutnya dan berteriak.
“Aapriiiil!”
Sosok kepala mungil berambut
coklat sebahu muncul dari balik puncak bukit.
“April, bisa kau temani tamu kita
diatas sana?”
April mengangguk.
“Kau bisa keatas sekarang.” Jill
menepuk pundakku.
“kau serius? Ke atas sana..”
“Ayolah. Jangan ragukan dirimu
sendiri. Masak menanjak bukit saja tidak bisa.” Jack menarik ujung tali
dipergelangannya dan mengikatkannya pada ranting pohon kering. “Karena kau tamu
aku akan memberimu bantuan.”
“April, tangkap!” ia lempar
ranting yang terikat tali itu keatas dan sebelum ranting itu jatuh April
menangkapnya dengan cepat. Kemudian sosok itu menghilang dengan menarik tali.
Jack terus memutar tali kearah kanan untuk memanjangkan jangkauan tali.
Jill tanpa ucapan sebelumnya dari
Jack, ia potong tali yang berada diujung jari saudaranya itu.
“Nah.” Ia sodorkan tali yang
menggelayut keatas bukit. “Ini naiklah. April telah mengikatnya pada pohon yang
kuat. Kau tidak akan jatuh. Tenang saja”
“Terima kasih” kuambil tali itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar