Kamis, 04 Juni 2020

Chapter 6: Si Kembar

Chapter 6

Si Kembar

K

utelusuri hutan ini sampai kutemukan bukit. Kutampar daun-daun yang menghalangi jalan, menunduk dari jaring laba-laba sebesar tangan, sampai melompat dari hewan-hewan melata dimana-mana. Semoga saja di sini tak ada singa atau babi hutan melintas di depanku.

Saat kurasakan sesuatu di atas tanah bertumpuk daun.

Shreeeeet.

Muncul jaring dari bawah pijakanku. Benda ini mengelilingi dan membungkus tubuhku sebelum  ikatannya semakin keras. Aku terduduk dalam jaring ini dan tertarik ke atas sampai terpatuk pada dahan pohon.

“Apa ini?” aku memekik. “...siapapun, tolong!” jari-jariku menarik sela-sela jaring.

Tak lama muncul sosok berambut pirang berkepang dua menggenggam pisau ditangan kanannya. Masya Allah, apakah aku dalam perangkap mereka dan hendak dibunuh?

“Jill?”

Ia mengangkat pisau seperti hendak melemparnya kearahku. Matanya melotot dan ia benar-benar melesatkan pisaunya padaku. Benda tajam itu memantulkan cahaya dari sinar fajar.

“Laa ilaaha illa Allah!”

Brukk!

Tubuhku terasa terguncang sebelum aku jatuh ketanah bersama dengan jaring yang masih menjerat tubuhku. Kuraba badanku yang masih utuh. Aku masih hidup! Alhamdulillah. Ternyata Jill hanya memotong tali yang menggantungkan jaring dengan dahan pohon.

“Wow, kau tak apa kawan?” rambut kepangnya yang panjang terguncang-guncang ketika berlari mendekatiku. “Seharusnya kau lebih berhati-hati.” Ia berlutut kemudian menarik sela-sela jaring dan memotongnya secara berderet kebawah sehingga ada lubang besar untuk diriku keluar.

“Hei, kenapa kau merusak jaring buatanku?” sebuah suara terdengar dari atas pohon.

“Lumayan bagus untukmu. Tapi aku bisa memotong jaringmu hanya dengan sekali tebasan.” Jill menengadah pada rimbunan daun  diatasnya. “Cepat turun, pengecut.”

Terlihat sesuatu muncul dari atas dan turun dengan satu lompatan ketanah. Dilengannya digulungkan bermeter-meter tali tambang kecil yang memanjang sampai hasta. Rambut keemasan itu serasi dengan rambut perempuan disebelahku. Sudah lengkaplah saudara ini. Jack dan Jill.

Aku keluar dari jaring dan ikut berdiri di samping Jill.

“Sekarang aku harus membuat lagi selama sebulan!” ia menggerutu sambil menunjuk pada jaring yang telah terkoyak.

“Kalian sedang apa?” Kerudung makin kutarik kedepan.

“Biasa. Berburu sambil berlatih.” Jill berkacak pinggang.

“Ngomong-ngomong apa yang kau ucapkan tadi? Tepatnya sebelum Jill melempar pisaunya.” Jack menarik jaringnya yang terlihat tak bisa digunakan lagi. Aku agak bergeser dari tempat.

“Emm. Anu... itu adalah kalimat Tuhanku.”

“ahak.” Jill seolah menahan tawa. “Kau punya tuhan?”

“T-tentu. Semua isi alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.” Gayaku berdakwah didepan mereka. “Allah Tuhanku.”

Tawa Jill meledak. Sepertinya ia tak tahan lagi menyumbat tawa dengan tangan menutup mulutnya. Ia terpingkal-pingkal sampai berguling di tanah.

“Hah. Lucu juga. Ternyata penduduk blok pikiran mereka masih terikat pada hal seperti itu.” Jack memutar matanya.

“Allah Subhana Wa Ta’ala.” Ucapku dengan berani.

Dengan sekejap tawa Jill berhenti dan ia membuka matanya. Aku terkejut melihat sikapnya yang sangat drastis. Sekarang Jack pun menatapku dalam.

“Kau..”

“-Muslim?”

Mereka saling bertatapan.

 “Ada apa?” aku memiringkan kepala.

“Rasanya pernah seorang muslim datang kerumah kami dan mengucapkan kata itu.” Jack mengusap keningnya.

“...ya, dia adalah orang yang berpengaruh pada kehidupan kami tapi aku tak ingat kapan dan sedang apa dia waktu itu.” Jill melanjutkan.

“Kalimat ‘Allah Subhana Wa Ta’ala’? ”

“Ya! Kau ingat siapa yang berkata seperti itu Jack?”

“Entah. Itu sudah lama sekali. Kita masih kecil waktu itu.”

~ ~ ~ * ~ ~ ~

“Benar ini bukitnya?” kupandangi jalanan terjal menanjak.

“Tentu. Kau bisa melihat pemandangan dari atas sana. Nanti diatas kau akan bertemu April. Ia pasti sedang memetik beri segar diatas.” Jack mengangkat lutut pada batu sambil melihat ke atas.

Jill melingkarkan kedua tangan diantara mulutnya dan berteriak.

“Aapriiiil!”

Sosok kepala mungil berambut coklat sebahu muncul dari balik puncak bukit.

“April, bisa kau temani tamu kita diatas sana?”

April mengangguk.

“Kau bisa keatas sekarang.” Jill menepuk pundakku.

“kau serius? Ke atas sana..”

“Ayolah. Jangan ragukan dirimu sendiri. Masak menanjak bukit saja tidak bisa.” Jack menarik ujung tali dipergelangannya dan mengikatkannya pada ranting pohon kering. “Karena kau tamu aku akan memberimu bantuan.”

“April, tangkap!” ia lempar ranting yang terikat tali itu keatas dan sebelum ranting itu jatuh April menangkapnya dengan cepat. Kemudian sosok itu menghilang dengan menarik tali. Jack terus memutar tali kearah kanan untuk memanjangkan jangkauan tali.

Jill tanpa ucapan sebelumnya dari Jack, ia potong tali yang berada diujung jari saudaranya itu.

“Nah.” Ia sodorkan tali yang menggelayut keatas bukit. “Ini naiklah. April telah mengikatnya pada pohon yang kuat. Kau tidak akan jatuh. Tenang saja”

“Terima kasih” kuambil tali itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...