Bunda Teressa
Hemmm. Harumnya. Bau apa ini?
|
K |
upikir diriku masih dialam mimpi.
Kedua kelopak mata kuangkat perlahan setelah beberapa kali berkedip. Tadinya
buronan akan jadi nama panggilanku bila aku selamat. Namun sepertinya tubuhku
nyaman diatas kasur empuk dan bantal. Kuresapi keadaan sekeliling. Kamar
berdinding kayu halus dengan sedikit barang didalamnya. Dapat kulihat dari
sudut mataku cahaya rembulan yang memancar dibalik tirai biru tipis dijendela
sebelah kanan. Angin malam menusuk pipiku. Aku bangun keposisi duduk sambil
meluruskan punggung yang telah lelah membawaku terus tegak saat dikejar.
Dimana aku?
Kepalaku
berputar ke berbagai arah mencari tau tempat apa ini, bagaimana bisa disini dan bagaimana bisa
keluar dari sini. Kudapati pintu tinggi di ujung kiri ruangan dan
menghampirinya perlahan. Setelah tujuh langkah kaki yang melelahkan kusentuh
gagang pintu besi sebelum kudengar suara tertawa dari orang-orang yang berbeda
usia saling bercampur. Melengking, rendah dan panjang, terbahak-bahak riuh
ramai.
Mendengar itu
hatiku serasa ciut dan takut. Tudung hitam kutarik kembali kedepan. Ini sudah
jadi seperti tameng rasa maluku. Ya Allah, lindungi aku. Aku terasa terdorong
untuk membuka pintu ini namun hatiku terlalu takut untuk melakukannya. Jika aku
mau aku akan kabur melalui jendela, namun untuk apa mereka menaruh aku diatas
kasur bila ingin mencelakaiku?
Dengan nama Allah...
Kutarik gagang
pintu dan suara berderitnya hampir memekikkan telingaku. Tawa ceria yang riuh
berhenti dan diakhiri suara batuk dari seseorang. Mataku sekilas melihat ruangan
sebelum aku menunduk kembali. Ini ruang makan. Sekitar 9 orang isinya yang
kebanyakan adalah anak-anak. Tiga dari mereka adalah seorang pria tua bertubuh
besar, ibu-ibu berambut hitam digulung dengan gaun sederhana dan anak lelaki
remaja yang mengendong wadah panah dan busur dipunggungnya. Mereka semua tengah
duduk dikursi yang mengelilingi meja makan yang panjang sambil menatapku.
“ Sini, duduklah bersama kami.”
Jawab ibu itu sambil menepuk-nepuk kursi kosong disebelah kanannya. Keramahan
terpancar dari wajahnya namun aku harus tetap waspada.
“ Maaf sebelumnya. Bisakah..
siapa saja disini menceritakan padaku mengapa aku bisa disini?” suaraku ragu
dan agak bergetar.
“ Makanlah dulu, santai saja. Nanti
kami akan memberi tahumu.” Ucap pria tua yang besar itu.
Mungkin
lebih baik aku menuruti katanya. Aku berada dirumah orang yang telah memberiku
tempat istirahat. Dan tak luput juga pikiranku mengingat mereka orang baik yang
mengajak aku makan. Ini seperti sebuah keluarga, namun aku tak tahu bukti apa
aku menyebut mereka keluarga. Diantara semua anak yang duduk disini semua jauh
berbeda. Dari wajah, rambut, dan mata mereka.
“ Aku perkenalkan padamu
anak-anak ini.” Ucap ibu itu. Matanya yang biru redup memberiku ketenangan.
Diriku seolah dihipnotis olehnya. Aku duduk disebelahnya dan mengangkat
pandanganku sedikit pada keadaan diatas meja. Kuharap mereka tak melihat
wajahku.
“ Dari sebelah kanan adalah anak
tertua sekaligus ketua bagi anak lain bila aku atau Paman Gerald tidak ada.” Ia
melirik remaja lelaki berpanah kemudian memutar kepalanya pada pria tua besar
di sisi kiri. “ dulu dia juga remaja yang ketakutan sepertimu saat baru aku
temukan.”
“ Tak perlu kau jelaskan itu
bunda.” Dia memalingkan wajahnya kesamping secara perlahan. Rambutnya
kecoklatan dan tidak rapi.
“kalau begitu perkenalkan dirimu
sendiri.”
“ Aku Antonio. Panggil saja aku
Tony.” Ucapnya tanpa memandangku. “ ...pemanah.”
“ Aku Jack! Pembuat perangkap.”
Ucap lelaki lain yang lebih muda. Sepertinya umurnya tak terlalu jauh denganku.
Namun aku baru sadar sepertinya dia punya saudara kandung disebelahnya. “ kalau
kau mau tahu cara membuat perangkap, tanyakan saja padaku.”
“ Sudah! Giliranku.” Gadis
berkepang memukul meja. “ Aku Jill.
Saudara kembar Jack.” Mereka memang sama. Rambut mereka pirang namun Jack punya
potongan rambut yang pendek. Mata mereka hijau bagai emerald. “Aku pelempar pisau.” Ia tersenyum seolah bangga
dengan ‘jabatannya’.
Menurutku, mereka telah dididik
untuk membunuh. Astagfirullah, aku tak boleh berburuk sangka. Aku belum tahu
mengapa mereka memegang pekerjaan-pekerjaan seperti itu.
“ Aku Julia. Salam kenal.”
Gayanya sopan dan dewasa. “aku suka membantu bunda didapur.” Ia sekitar anak
seumuran 12 tahun namun sikapnya benar-benar keibuan. “..bila masakannya kurang
enak kau bisa bicara langsung padaku.” Rambut hitam lurusnya terurai kedepan
pundaknya.
“ Oii. Aku Samuel.” Sekarang anak
kecil berumur 6 tahun berambut merah ikal. “...aku belum dibolehkan memegang
senjata jadi setiap hari aku selalu memanjat pohon.” Terlihat dua giginya yang
tanggal dibalik senyum lebarnya. Aku hampir tak bisa menahan tawa.
“ A- afreilh. ” Lalu gadis kecil
dengan bondu dikepalanya. ia melipat jempol lalu menunjukkan perlahan
kedepanku. Angka Empat.
“ Dia April. Umurnya empat tahun.
Sebuah bencana membuatnya tak lancar berbicara.” Ucap ibu yang dipanggil bunda
itu.
Hening sesaat. Sepertinya
kejadian yang menimpa April berbekas kesedihan pula pada orang-orang ini.
“Dan yang terakhir adalah Doris.
Bayi perempuan lucu tanpa dosa yang kami semua sayangi.” Balita itu mengunyah
biskuit bayinya.
“Sekarang sebutkan namamu!” Tony
menyilangkan tangan didadanya.
Semua diam menunggu jawabanku.
“Ra- Raihanah. Panggil saja aku
Raihannah.” Seseorang mengelus punggungku seolah-olah itu adalah penghargaan
atas keberanianku memperkenalkan diri.
“ Dan aku belum memperkenalkan
diriku. Aku Teressa. Pendiri tempat ini bersama bantuan Paman Gerald. Anak-anak
memanggilku Bunda Teressa.” Ia terus mengelus punggungku.
Aku
terus menunduk tanpa menatap matanya atau mata orang lain.
Dia berhenti mengusapku setelah Samuel
berteriak. Rambut ikal merah bagai matahari hampir menutup alisnya.
“ Bunda, boleh kami mulai makan
sekarang?”
“ Oh, ya. Aku lupa. Lanjutkanlah
makannya.” Ia mengibas-ngibaskan empat jarinya sambil tertawa kecil.
Semua anak melahap makanan bagai
orang yang kelaparan. Kecuali, tentu Julia. Ia memasukkan setiap sendok bubur
gandum dengan perlahan seperti takut setetes akan tumpah.
“ Jack, tolong ambilkan sup
kentang disitu.”
“ Ni thia fhunda.” Kata-kata tak
bisa keluar dengan jelas melewati mulutnya yang penuh makanan. Ia mengangkat
mangkok hijau ketengah meja makan. Bunda mengambil dengan kedua tangannya.
“ Ini untukmu. Aku tahu daging
hewan kami tak boleh kau makan.” Ia menyiuk beberapa sendok sup beraroma sedap
itu pada piring didepanku. “ Ini hanya dari kentang dan beberapa
rempah-rempah.”
Ternyata ia tahu aku ini seorang
muslim.
“ Terima kasih. Nyonya.”
“ Hhahha. Jangan panggil aku nyonya,
aku belum menikah.” Tawanya yang ringan disusul tawa berat dari pria tua besar.
“Entahlah apa dalam pikirannya.
Adikku ini memang memilih jadi perawan tua.” Paman Gerald menunjuk Bunda dengan
garpu.
Aku terdiam sejenak. Jadi benar
dugaanku. Mereka bukan keluarga asli.
Ruangan
ini dipenuhi tawa dari dua orang dewasa ini. Anak lain tak ada yang tertawa
atau bicara. Mereka hanya tersenyum lalu melanjutkan melahap makan malam.
Sekitar kurang dari setengah
menit tawa mereka mereda dan berhenti.
“Untuk cerita mengapa dirimu bisa
disini besok saja. Sekarang kau makanlah dulu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar