Kamis, 04 Juni 2020

Chapter 3: Bunda Teressa

Chapter 3

Bunda Teressa

 

Hemmm. Harumnya. Bau apa ini?

K

upikir diriku masih dialam mimpi. Kedua kelopak mata kuangkat perlahan setelah beberapa kali berkedip. Tadinya buronan akan jadi nama panggilanku bila aku selamat. Namun sepertinya tubuhku nyaman diatas kasur empuk dan bantal. Kuresapi keadaan sekeliling. Kamar berdinding kayu halus dengan sedikit barang didalamnya. Dapat kulihat dari sudut mataku cahaya rembulan yang memancar dibalik tirai biru tipis dijendela sebelah kanan. Angin malam menusuk pipiku. Aku bangun keposisi duduk sambil meluruskan punggung yang telah lelah membawaku terus tegak saat dikejar.

Dimana aku?

Kepalaku berputar ke berbagai arah mencari tau tempat apa ini,  bagaimana bisa disini dan bagaimana bisa keluar dari sini. Kudapati pintu tinggi di ujung kiri ruangan dan menghampirinya perlahan. Setelah tujuh langkah kaki yang melelahkan kusentuh gagang pintu besi sebelum kudengar suara tertawa dari orang-orang yang berbeda usia saling bercampur. Melengking, rendah dan panjang, terbahak-bahak riuh ramai.

Mendengar itu hatiku serasa ciut dan takut. Tudung hitam kutarik kembali kedepan. Ini sudah jadi seperti tameng rasa maluku. Ya Allah, lindungi aku. Aku terasa terdorong untuk membuka pintu ini namun hatiku terlalu takut untuk melakukannya. Jika aku mau aku akan kabur melalui jendela, namun untuk apa mereka menaruh aku diatas kasur bila ingin mencelakaiku?

Dengan nama Allah...

Kutarik gagang pintu dan suara berderitnya hampir memekikkan telingaku. Tawa ceria yang riuh berhenti dan diakhiri suara batuk dari seseorang. Mataku sekilas melihat ruangan sebelum aku menunduk kembali. Ini ruang makan. Sekitar 9 orang isinya yang kebanyakan adalah anak-anak. Tiga dari mereka adalah seorang pria tua bertubuh besar, ibu-ibu berambut hitam digulung dengan gaun sederhana dan anak lelaki remaja yang mengendong wadah panah dan busur dipunggungnya. Mereka semua tengah duduk dikursi yang mengelilingi meja makan yang panjang sambil menatapku.

“ Sini, duduklah bersama kami.” Jawab ibu itu sambil menepuk-nepuk kursi kosong disebelah kanannya. Keramahan terpancar dari wajahnya namun aku harus tetap waspada.

“ Maaf sebelumnya. Bisakah.. siapa saja disini menceritakan padaku mengapa aku bisa disini?” suaraku ragu dan agak bergetar.

“ Makanlah dulu, santai saja. Nanti kami akan memberi tahumu.” Ucap pria tua yang besar itu.

                Mungkin lebih baik aku menuruti katanya. Aku berada dirumah orang yang telah memberiku tempat istirahat. Dan tak luput juga pikiranku mengingat mereka orang baik yang mengajak aku makan. Ini seperti sebuah keluarga, namun aku tak tahu bukti apa aku menyebut mereka keluarga. Diantara semua anak yang duduk disini semua jauh berbeda. Dari wajah, rambut, dan mata mereka.

“ Aku perkenalkan padamu anak-anak ini.” Ucap ibu itu. Matanya yang biru redup memberiku ketenangan. Diriku seolah dihipnotis olehnya. Aku duduk disebelahnya dan mengangkat pandanganku sedikit pada keadaan diatas meja. Kuharap mereka tak melihat wajahku.

“ Dari sebelah kanan adalah anak tertua sekaligus ketua bagi anak lain bila aku atau Paman Gerald tidak ada.” Ia melirik remaja lelaki berpanah kemudian memutar kepalanya pada pria tua besar di sisi kiri. “ dulu dia juga remaja yang ketakutan sepertimu saat baru aku temukan.”

“ Tak perlu kau jelaskan itu bunda.” Dia memalingkan wajahnya kesamping secara perlahan. Rambutnya kecoklatan dan tidak rapi.

“kalau begitu perkenalkan dirimu sendiri.”

“ Aku Antonio. Panggil saja aku Tony.” Ucapnya tanpa memandangku. “ ...pemanah.”

“ Aku Jack! Pembuat perangkap.” Ucap lelaki lain yang lebih muda. Sepertinya umurnya tak terlalu jauh denganku. Namun aku baru sadar sepertinya dia punya saudara kandung disebelahnya. “ kalau kau mau tahu cara membuat perangkap, tanyakan saja padaku.”

“ Sudah! Giliranku.” Gadis berkepang memukul meja. “ Aku  Jill. Saudara kembar Jack.” Mereka memang sama. Rambut mereka pirang namun Jack punya potongan rambut yang pendek. Mata mereka hijau bagai emerald. “Aku  pelempar pisau.” Ia tersenyum seolah bangga dengan ‘jabatannya’.

Menurutku, mereka telah dididik untuk membunuh. Astagfirullah, aku tak boleh berburuk sangka. Aku belum tahu mengapa mereka memegang pekerjaan-pekerjaan seperti itu.

“ Aku Julia. Salam kenal.” Gayanya sopan dan dewasa. “aku suka membantu bunda didapur.” Ia sekitar anak seumuran 12 tahun namun sikapnya benar-benar keibuan. “..bila masakannya kurang enak kau bisa bicara langsung padaku.” Rambut hitam lurusnya terurai kedepan pundaknya.

“ Oii. Aku Samuel.” Sekarang anak kecil berumur 6 tahun berambut merah ikal. “...aku belum dibolehkan memegang senjata jadi setiap hari aku selalu memanjat pohon.” Terlihat dua giginya yang tanggal dibalik senyum lebarnya. Aku hampir tak bisa menahan tawa.

“ A- afreilh. ” Lalu gadis kecil dengan bondu dikepalanya. ia melipat jempol lalu menunjukkan perlahan kedepanku. Angka Empat.

“ Dia April. Umurnya empat tahun. Sebuah bencana membuatnya tak lancar berbicara.” Ucap ibu yang dipanggil bunda itu.

Hening sesaat. Sepertinya kejadian yang menimpa April berbekas kesedihan pula pada orang-orang ini.

“Dan yang terakhir adalah Doris. Bayi perempuan lucu tanpa dosa yang kami semua sayangi.” Balita itu mengunyah biskuit bayinya.

“Sekarang sebutkan namamu!” Tony menyilangkan tangan didadanya.

Semua diam menunggu jawabanku.

“Ra- Raihanah. Panggil saja aku Raihannah.” Seseorang mengelus punggungku seolah-olah itu adalah penghargaan atas keberanianku memperkenalkan diri.

“ Dan aku belum memperkenalkan diriku. Aku Teressa. Pendiri tempat ini bersama bantuan Paman Gerald. Anak-anak memanggilku Bunda Teressa.” Ia terus mengelus punggungku.

                Aku terus menunduk tanpa menatap matanya atau mata orang lain.

Dia berhenti mengusapku setelah Samuel berteriak. Rambut ikal merah bagai matahari hampir menutup alisnya.

“ Bunda, boleh kami mulai makan sekarang?”

“ Oh, ya. Aku lupa. Lanjutkanlah makannya.” Ia mengibas-ngibaskan empat jarinya sambil tertawa kecil.

Semua anak melahap makanan bagai orang yang kelaparan. Kecuali, tentu Julia. Ia memasukkan setiap sendok bubur gandum dengan perlahan seperti takut setetes akan tumpah.

“ Jack, tolong ambilkan sup kentang disitu.”

“ Ni thia fhunda.” Kata-kata tak bisa keluar dengan jelas melewati mulutnya yang penuh makanan. Ia mengangkat mangkok hijau ketengah meja makan. Bunda mengambil dengan kedua tangannya.

“ Ini untukmu. Aku tahu daging hewan kami tak boleh kau makan.” Ia menyiuk beberapa sendok sup beraroma sedap itu pada piring didepanku. “ Ini hanya dari kentang dan beberapa rempah-rempah.”

Ternyata ia tahu aku ini seorang muslim.

“ Terima kasih. Nyonya.”

“ Hhahha. Jangan panggil aku nyonya, aku belum menikah.” Tawanya yang ringan disusul tawa berat dari pria tua besar.

“Entahlah apa dalam pikirannya. Adikku ini memang memilih jadi perawan tua.” Paman Gerald menunjuk Bunda dengan garpu.

Aku terdiam sejenak. Jadi benar dugaanku. Mereka bukan keluarga asli.

                Ruangan ini dipenuhi tawa dari dua orang dewasa ini. Anak lain tak ada yang tertawa atau bicara. Mereka hanya tersenyum lalu melanjutkan melahap makan malam.

Sekitar kurang dari setengah menit tawa mereka mereda dan berhenti.

“Untuk cerita mengapa dirimu bisa disini besok saja. Sekarang kau makanlah dulu.”


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...