Chapter 4
Jam Besar
|
H |
uamm. “Alhamdulillahillazi ahyana
ba’dama amatana wa ilaihin nusyur.” Kuregangkan tubuh dan mendapati diriku
bangun ditempat semula aku siuman. Diluar masih gelap. Aku harus melihat jam
berapa sekarang apakah telah waktunya sholat shubuh.
Kubuka pintu dan
terdengar suara aliran air keran serta piring-piring beradu. Dibelakang meja
makan sosok wanita bergaun sederhana yang membelakangi diriku. Tangan yang
tersembunyi dibalik badannya bergerak-gerak menggosok dan memindahkan piring.
“Permisi. Bunda tahu jam berapa
sekarang?”
Mendengar itu ia mengangkat
kepalanya kemudian menutup keran dan memutar badannya.
“Ouh. Kau begitu pagi sayang.
Didapur tidak ada jam. Kau bisa ke ruang tengah dan menyalakan lampu. Ada jam besar disana.” Ia
menunjuk ruangan gelap dibawah tangga kayu yang menurun.
“Terima kasih.” Jawabanku tak
sesingkat pikiranku. Aku terus berfikir benarkah? Aku mesti turun keruangan
gelap hanya untuk mengetauhi pukul berapa sekarang?
Aku turun. Berat
rasanya bila kau harus menuruni tangga dalam keadaan habis dikejar sepanjang
satu blok. Kucoba menahan kakiku agar tak menimbulkan langkah yang keras. Jempol
tumit, jempol tumit, jempol tumit.
Betapa takutnya
aku pada kegelapan saat masih kecil. Aku bahkan pernah menahan diri untuk tidak
kekamar mandi saat tengah malam. Berharap hari cepat pagi sambil menahan-nahan
jus buah yang kuminum sebelum tidur.
Sekarang kendali
mulai ada pada diriku. Hanya ingat bahwa Allah yang mesti kutakuti, aku terus
menuruni tangga sampai tiba diruangan yang terbuka pintunya. Gelap, sepi. Jadi
kubayangkan akan muncul sosok monster seperti cerita didongeng-dongeng.
Bersisik sambil menyeringai padamu dengan mata merah bersinar dan cakar panjang
yang tajam. Sudahlah. Hilangkan pikiran itu. Allah selalu bersamamu.
Kuraba-raba dinding dan
menekannya setelah menemukan saklar lampu. Ruangan utama. Lantai yang lumayan
luas dan beberapa kursi tua serta peralatan berburu yang menumpuk ditaruh dalam
sebuah boks sampai menjulur keluar. Beberapa alat digantung diatas paku
-seperti tas anyam, wadah panah dan busur, jaring, tali tambang, tak
ketinggalan pisau yang diikat berantai pada tali. Ditengah ruangan ini tempat
perapian yang besar diisi tumpukan kayu kering. Makin aku mengamati tanpa
kuduga ...
“Mau apa kau?”
Aku terperanjat. Kutelusuri
sumber suara. Antonio duduk dengan menopang kaki kanan diatas lututnya. Untung
wajahku tertutup tudung.
Aku diam sejenak.
“Kau tahu sekarang jam berapa?”
“Jam sebelah sini” ia bangun dari
kursi tua yang reyot dengan malas dan berjalan kearah benda tinggi yang
diselimuti kain merah. Tubuhnya tinggi dan tangannya yang terdapat banyak
goresan benda tajam, menunjukkan kekejaman dunia padanya. Tangan itu diangkat
dan menarik kain merah seperti pesulap menunjukkan trik memunculkan benda.
Sebuah jam besar dari kayu berada
dihadapanku. Tingginya sekitar 2 meter dengan lebar sehasta. Gerak jarumnya
terdengar begitu jelas ditambah bundaran yang berayun kekiri dan kekanan
didalam kaca. Waktu kecil, aku menyebut ini jam ding-dong.
Kulihat jarum jam berwarna
kuningan. Empat lebih sembilan menit, sekitar tiga menit lagi waktu shubuh.
“Terima Kasih.” Ucapku pelan.
“Kenapa?”
“Memberitahuku waktu sekarang.”
“Bukan, maksudku mengapa kau
ingin tahu waktu sekarang ini?”
Aku belum bisa bilang jika diriku
sedang menunggu waktu sholat. Apa reaksi Antonio bila tahu aku muslim?
Membayangkan mereka memutilasi aku dan menjadikanku makan malam mereka. Sungguh
mengerikan.
Astagfirullah. Pikiranku memang
sudah dirasuki setan. Mereka pasti sudah tahu aku muslim- atau minimal Madam
Teressa yang tahu soal ini. Karena aku terbangun dalam keadaan tudungku dibuka
dan sedang mengenakan kerudung. Jika mereka membenciku pasti dari awal aku
sudah dibunuh. Ya, mereka pasti orang baik. Tapi akan lama bila menjelaskan
waktu sholat pada Atonio.
“Aku mau beribadah. Kau sendiri,
mengapa jam segini kau telah bangun?”
“Hei orang alim. Bagi kami jam
adalah pembatas. Sedangkan kami tidak ingin dibatasi. Kami beraktifitas
berdasarkan matahari dan bulan. Kau bisa tahu kan mengapa jam ini ditutupi
kain?”
“Maaf aku sedang tidak ingin
berdebat denganmu.” Aku berbalik dan kembali berjalan menuju tangga.
“Boleh aku tahu dimana utara?”
aku bicara membelakanginya. Ini pasti sangat tak sopan. Namun bagaimana lagi.
Aku sedang menahan gengsi.
“Searah dengan pintu keluar.”
“Terima, kasih.” Ucapku dengan
terpaksa.
“Tidak sama-sama.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar