Kamis, 04 Juni 2020

Chapter 4: Jam Besar

Chapter 4

Jam Besar

 

H

uamm. “Alhamdulillahillazi ahyana ba’dama amatana wa ilaihin nusyur.” Kuregangkan tubuh dan mendapati diriku bangun ditempat semula aku siuman. Diluar masih gelap. Aku harus melihat jam berapa sekarang apakah telah waktunya sholat shubuh.

Kubuka pintu dan terdengar suara aliran air keran serta piring-piring beradu. Dibelakang meja makan sosok wanita bergaun sederhana yang membelakangi diriku. Tangan yang tersembunyi dibalik badannya bergerak-gerak menggosok dan memindahkan piring.

“Permisi. Bunda tahu jam berapa sekarang?”

Mendengar itu ia mengangkat kepalanya kemudian menutup keran dan memutar badannya.

“Ouh. Kau begitu pagi sayang. Didapur tidak ada jam. Kau bisa ke ruang tengah dan  menyalakan lampu. Ada jam besar disana.” Ia menunjuk ruangan gelap dibawah tangga kayu yang menurun.

“Terima kasih.” Jawabanku tak sesingkat pikiranku. Aku terus berfikir benarkah? Aku mesti turun keruangan gelap hanya untuk mengetauhi pukul berapa sekarang?

Aku turun. Berat rasanya bila kau harus menuruni tangga dalam keadaan habis dikejar sepanjang satu blok. Kucoba menahan kakiku agar tak menimbulkan langkah yang keras. Jempol tumit, jempol tumit, jempol tumit.

Betapa takutnya aku pada kegelapan saat masih kecil. Aku bahkan pernah menahan diri untuk tidak kekamar mandi saat tengah malam. Berharap hari cepat pagi sambil menahan-nahan jus buah yang kuminum sebelum tidur.

Sekarang kendali mulai ada pada diriku. Hanya ingat bahwa Allah yang mesti kutakuti, aku terus menuruni tangga sampai tiba diruangan yang terbuka pintunya. Gelap, sepi. Jadi kubayangkan akan muncul sosok monster seperti cerita didongeng-dongeng. Bersisik sambil menyeringai padamu dengan mata merah bersinar dan cakar panjang yang tajam. Sudahlah. Hilangkan pikiran itu. Allah selalu bersamamu.

Kuraba-raba dinding dan menekannya setelah menemukan saklar lampu. Ruangan utama. Lantai yang lumayan luas dan beberapa kursi tua serta peralatan berburu yang menumpuk ditaruh dalam sebuah boks sampai menjulur keluar. Beberapa alat digantung diatas paku -seperti tas anyam, wadah panah dan busur, jaring, tali tambang, tak ketinggalan pisau yang diikat berantai pada tali. Ditengah ruangan ini tempat perapian yang besar diisi tumpukan kayu kering. Makin aku mengamati tanpa kuduga ...

“Mau apa kau?”

Aku terperanjat. Kutelusuri sumber suara. Antonio duduk dengan menopang kaki kanan diatas lututnya. Untung wajahku tertutup tudung.

Aku diam sejenak.

“Kau tahu sekarang jam berapa?”

“Jam sebelah sini” ia bangun dari kursi tua yang reyot dengan malas dan berjalan kearah benda tinggi yang diselimuti kain merah. Tubuhnya tinggi dan tangannya yang terdapat banyak goresan benda tajam, menunjukkan kekejaman dunia padanya. Tangan itu diangkat dan menarik kain merah seperti pesulap menunjukkan trik memunculkan benda.

Sebuah jam besar dari kayu berada dihadapanku. Tingginya sekitar 2 meter dengan lebar sehasta. Gerak jarumnya terdengar begitu jelas ditambah bundaran yang berayun kekiri dan kekanan didalam kaca. Waktu kecil, aku menyebut ini jam ding-dong.

Kulihat jarum jam berwarna kuningan. Empat lebih sembilan menit, sekitar tiga menit lagi waktu shubuh.

“Terima Kasih.” Ucapku pelan.

“Kenapa?”

“Memberitahuku waktu sekarang.”

“Bukan, maksudku mengapa kau ingin tahu waktu sekarang ini?”

Aku belum bisa bilang jika diriku sedang menunggu waktu sholat. Apa reaksi Antonio bila tahu aku muslim? Membayangkan mereka memutilasi aku dan menjadikanku makan malam mereka. Sungguh mengerikan.

Astagfirullah. Pikiranku memang sudah dirasuki setan. Mereka pasti sudah tahu aku muslim- atau minimal Madam Teressa yang tahu soal ini. Karena aku terbangun dalam keadaan tudungku dibuka dan sedang mengenakan kerudung. Jika mereka membenciku pasti dari awal aku sudah dibunuh. Ya, mereka pasti orang baik. Tapi akan lama bila menjelaskan waktu sholat pada Atonio.

“Aku mau beribadah. Kau sendiri, mengapa jam segini kau telah bangun?”

“Hei orang alim. Bagi kami jam adalah pembatas. Sedangkan kami tidak ingin dibatasi. Kami beraktifitas berdasarkan matahari dan bulan. Kau bisa tahu kan mengapa jam ini ditutupi kain?”

“Maaf aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Aku berbalik dan kembali berjalan menuju tangga.

“Boleh aku tahu dimana utara?” aku bicara membelakanginya. Ini pasti sangat tak sopan. Namun bagaimana lagi. Aku sedang menahan gengsi.

“Searah dengan pintu keluar.”

“Terima, kasih.” Ucapku dengan terpaksa.

“Tidak sama-sama.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...