Hutan
|
B |
unda Teressa membereskan piring
di meja makan disertai bantuan Julia. Anak-anak melompat dari kursi dan segera
menuju ruang utama dan mengambil peralatan mereka menyambut hari untuk berburu
atau apalah itu. Doris si bayi masih memainkan buburnya. Kadang bubur encer
meleset dari mulutnya dan menempel di pipinya yang kebi putih. Sungguh imut dan
cantik. Bibir kecilnya yang merah selalu mengoceh tanpa henti “Ga-ga-gu niau
unna.”
April dan Samuel mengikuti anak
yang lebih besar dari belakang. Setelah beberapa lama kebisingan suara kayu dan
pisau beradu di Ruang Utama, mereka muncul dan berebut untuk jadi yang yang
pertama keluar rumah. Jack dan Jill saling mendorong dengan bahu mereka. Samuel
menarik rompi kulit beruang Jack. April kadang terdorong karena terlalu dekat
dengan pertempuran menuju ‘pintu dunia’ ini. Tapi hebatnya walaupun ia
tersenggol atau tersikut ia tidak menangis dan tetap diam meski sesekali mundur
beberapa langkah.
Aku tak melihat Antonio. Dimana
dia?
Setelah anak-anak keluar dari
rumah dan meninggalkan keheningan, sosok berambut coklat berantakan muncul dari
Ruang Utama. Tangan kanannya menarik tali wadah panah yang bersandar dipunggung
sedangkan tangan kanannya menggenggam busur.
Aku masih dalam posisi duduk di
kursi. Segera kutundukkan kepalaku saat melihatnya. Ia mendekat dan melewatiku
begitu saja. Namun tetiba ia berhenti dan berbalik.
“Hari ini ingin kubawakan apa
Bunda?”
“Tak perlu macam-macam. Hari ini
Bunda tidak mau terlalu banyak daging. Kau seharusnya tahu keadaan tamu kita.”
Ia tumpuk piring-piring kotor pada baskom yang dipegang Julia. “Oh. Lebih bagus
lagi bila kau mengajak gadis ini melihat keadaan hutan. Dia kan ‘Gadis Jalan
Blok’ aku khawatir dia tak terbiasa hanya untuk keluar dari sini.”
Antonio pasti
merasa malas. Begitu pula denganku. Kuharap
ia akan memberi alasan untuk tidak mengajakku kehutan.
Ia mengela nafas lalu membuangnya
dengan malas.
“Kau dengar yang dikatakan Bunda?
Ayo cepat bangun dan ikuti aku!”
Ampun! Bagaimana
orang ini. Beri alasan saja tidak bisa. Aku harus cepat ambil tindakan. Mataku
melirik kekiri kekanan. Dan seolah lampu neon berpijar dalam kepalaku tepat
saat kulirik gadis kecil yang wajahnya telah berat dengan baskom penuh piring.
“Maaf Bunda, tapi aku akan ikut
bila ditemani Julia.”
“Tunggu, apa?! Aku?” wajah yang
tegang dibebani oleh piring sekarang jadi makin tegang mendengar namanya sendiri. “Maaf Raihannah. Tapi aku selalu membantu
Bunda didapur.”
“Hoho. Tidak untuk kali ini.”
Bunda mengambil baskom yang dipeluk Julia ke pangkuannya. “Ia ada benarnya
juga. Hari ini kau harus kehutan bergabung dengan saudaramu yang lain. Kau
tampak dewasa sebelum umurnya sayang.”
~ ~ ~ * ~ ~ ~
“Apa kau merasa berat karena aku
mengajakmu?” kucabut ilalang didekat tempat Julia duduk dan memainkannya.
“Tentu tidak. Kau tak boleh
bilang begitu. Inipun atas permintaan bunda. Aku senang melakukan apa yang Bunda
perintahkan.” Ia bicara sambil memandang danau didepan kami. “Tak ada
seorangpun dari kami yang melawan Bunda.”
Aku dan Julia
bisa dikatakan hanya sebagai boneka hiasan bagi Antonio. Ia memanah hampir apa
saja yang didengarnya: gemerisik semak, kelinci lucu yang berlarian, burung
elang dilangit, sampai daun yang jatuh. Walaupun kebanyakan semuanya meleset
dan jatuh ketanah atau hanya menancap dibatang pohon, ia terus saja bergaya
serius dan mengambil panahnya berkali-kali seolah tak akan habis. Sedangkan aku
duduk bersila sambil memainkan ilalang ditemani Julia yang duduk manis
disampingku.
“Ini cara kami berterima kasih.”
Lanjutnya. “Bunda menemukan kami - anak jalanan yang tidak diharapkan di Blok.
Bahkan ada diantara kami yang ia temukan di... tempat sampah.” Suaranya
bergetar diakhir kalimat.
Sekarang aku benar-benar
menatapnya dari balik kerudung setelah mengetahui hal itu. Aku tahu dia mencoba
menyembunyikan kesedihannya. Mungkin Bunda Teressa adalah segalanya dibanding
orangtua asli bagi mereka. Entah apa yang harus kukatakan karena dalam diriku
tak ada bakat menenangkan orang yang sedih. Lebih baik aku diam dan mengalihkan
pandangan kearah lain.
Apakah aku mesti terus menunggu
disini? Dengan lelaki dingin keras kepala dan anak 12 tahun yang menangis.
Untungnya masih ada suara kumbang disekitarku. Kapan aku bisa selesai dari
kegiatan ini dan pulang mengantar roti lagi?
Astagfirullah! Baru teringat
olehku roti yang diamanati ibu. Dimana keranjangku? Ada mushaf kesayanganku
didalamanya. Dan pasti roti itu sudah lembab dan tidak harum lagi.
Aku bangkit dan melihat gerakanku
yang tiba-tiba, Julia langsung menengadah.
“Julia, k-kau melihat keranjang
rotan berisi roti?”
“Keranjang?” ia menggaruk dagu
dengan telunjuknya.
“Tenanglah orang alim. Roti itu
dihangatkan Bunda ketika pagi dan tidak akan dimakan oleh kami.” Antonio
menjawab namun dengan gaya yang ‘masa bodoh’. Ia mengambil kembali panah
dipunggunggungnya.
“Kau tahu darimana? Kau tidak
melihat isinya, ‘kan?” aku bertanya dengan panik.
“Apa yang kau bayangkan jika
seorang lelaki menemukan tas gadis yang misterius?” ia membidik panahnya.
Menutup satu mata sambil menarik tali busur.
“Aku harus kembali kerumah.”
“Jangan, Bunda saat ini sedang
beres-beres.” Julia menarik tanganku.
“Bukan. Maksudku kembali
kerumahku di Den Village. Roti itu mesti kuantar.”
“Masih kau pikirkan roti itu.
Yang penting itu pikirkan dulu bagaimana kau bisa pulang.” Antonio melepaskan tali
busur. Panah melesat sebelum menghilang dan suara jatuh terdengar dari balik
semak-semak. “Kuda dipakai oleh Paman Gerald. Paling kau baru bisa pulang
besok.”
Apa? Besok? Dia pikir ini hal
sepele? Enteng sekali ia bicara.
“Kalau begitu aku ingin mencari
bukit. Maaf Julia, kau temani saja Tony disini. Aku ingin sendiri.” Kujauhi
mereka memasuki hutan yang lebih rapat pepohonannya. Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahu Akbar. Seolah-olah aku ingin mendengus dan memukul lelaki
itu dengan sepatuku. Gaya bicaranya membuatku emosi. Sabar, sabar.
Kupandangi hutan yang kebanyakan
adalah pohon ek dan cemara. Tanah lembab dan becek akibat hujan kukira tak
sampai ke hutan. Aku ingin mencari bukit yang paling tinggi sehingga bisa tahu
dimana letak kota. Awan begitu indah membentuk gumpalan kapas yang mengumpul.
Kulihat matahari. Masih jauh jaraknya ke atas kepala, waktu Zuhur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar