Kamis, 04 Juni 2020

Chater 5: Hutan

Chapter 5

Hutan

 

B

unda Teressa membereskan piring di meja makan disertai bantuan Julia. Anak-anak melompat dari kursi dan segera menuju ruang utama dan mengambil peralatan mereka menyambut hari untuk berburu atau apalah itu. Doris si bayi masih memainkan buburnya. Kadang bubur encer meleset dari mulutnya dan menempel di pipinya yang kebi putih. Sungguh imut dan cantik. Bibir kecilnya yang merah selalu mengoceh tanpa henti “Ga-ga-gu niau unna.”

April dan Samuel mengikuti anak yang lebih besar dari belakang. Setelah beberapa lama kebisingan suara kayu dan pisau beradu di Ruang Utama, mereka muncul dan berebut untuk jadi yang yang pertama keluar rumah. Jack dan Jill saling mendorong dengan bahu mereka. Samuel menarik rompi kulit beruang Jack. April kadang terdorong karena terlalu dekat dengan pertempuran menuju ‘pintu dunia’ ini. Tapi hebatnya walaupun ia tersenggol atau tersikut ia tidak menangis dan tetap diam meski sesekali mundur beberapa langkah.

Aku tak melihat Antonio. Dimana dia?

Setelah anak-anak keluar dari rumah dan meninggalkan keheningan, sosok berambut coklat berantakan muncul dari Ruang Utama. Tangan kanannya menarik tali wadah panah yang bersandar dipunggung sedangkan tangan kanannya menggenggam busur.

Aku masih dalam posisi duduk di kursi. Segera kutundukkan kepalaku saat melihatnya. Ia mendekat dan melewatiku begitu saja. Namun tetiba ia berhenti dan berbalik.

“Hari ini ingin kubawakan apa Bunda?”

“Tak perlu macam-macam. Hari ini Bunda tidak mau terlalu banyak daging. Kau seharusnya tahu keadaan tamu kita.” Ia tumpuk piring-piring kotor pada baskom yang dipegang Julia. “Oh. Lebih bagus lagi bila kau mengajak gadis ini melihat keadaan hutan. Dia kan ‘Gadis Jalan Blok’ aku khawatir dia tak terbiasa hanya untuk keluar dari sini.”

Antonio pasti merasa malas. Begitu pula denganku. Kuharap  ia akan memberi alasan untuk tidak mengajakku kehutan.

Ia mengela nafas lalu membuangnya dengan malas.

“Kau dengar yang dikatakan Bunda? Ayo cepat bangun dan ikuti aku!”

Ampun! Bagaimana orang ini. Beri alasan saja tidak bisa. Aku harus cepat ambil tindakan. Mataku melirik kekiri kekanan. Dan seolah lampu neon berpijar dalam kepalaku tepat saat kulirik gadis kecil yang wajahnya telah berat dengan baskom penuh piring.

“Maaf Bunda, tapi aku akan ikut bila ditemani Julia.”

“Tunggu, apa?! Aku?” wajah yang tegang dibebani oleh piring sekarang jadi makin tegang mendengar namanya sendiri.  “Maaf Raihannah. Tapi aku selalu membantu Bunda didapur.”

“Hoho. Tidak untuk kali ini.” Bunda mengambil baskom yang dipeluk Julia ke pangkuannya. “Ia ada benarnya juga. Hari ini kau harus kehutan bergabung dengan saudaramu yang lain. Kau tampak dewasa sebelum umurnya sayang.”

 

~ ~ ~ * ~ ~ ~

“Apa kau merasa berat karena aku mengajakmu?” kucabut ilalang didekat tempat Julia duduk dan memainkannya.

“Tentu tidak. Kau tak boleh bilang begitu. Inipun atas permintaan bunda. Aku senang melakukan apa yang Bunda perintahkan.” Ia bicara sambil memandang danau didepan kami. “Tak ada seorangpun dari kami yang melawan Bunda.”

Aku dan Julia bisa dikatakan hanya sebagai boneka hiasan bagi Antonio. Ia memanah hampir apa saja yang didengarnya: gemerisik semak, kelinci lucu yang berlarian, burung elang dilangit, sampai daun yang jatuh. Walaupun kebanyakan semuanya meleset dan jatuh ketanah atau hanya menancap dibatang pohon, ia terus saja bergaya serius dan mengambil panahnya berkali-kali seolah tak akan habis. Sedangkan aku duduk bersila sambil memainkan ilalang ditemani Julia yang duduk manis disampingku.

“Ini cara kami berterima kasih.” Lanjutnya. “Bunda menemukan kami - anak jalanan yang tidak diharapkan di Blok. Bahkan ada diantara kami yang ia temukan di... tempat sampah.” Suaranya bergetar diakhir kalimat.

Sekarang aku benar-benar menatapnya dari balik kerudung setelah mengetahui hal itu. Aku tahu dia mencoba menyembunyikan kesedihannya. Mungkin Bunda Teressa adalah segalanya dibanding orangtua asli bagi mereka. Entah apa yang harus kukatakan karena dalam diriku tak ada bakat menenangkan orang yang sedih. Lebih baik aku diam dan mengalihkan pandangan kearah lain.

Apakah aku mesti terus menunggu disini? Dengan lelaki dingin keras kepala dan anak 12 tahun yang menangis. Untungnya masih ada suara kumbang disekitarku. Kapan aku bisa selesai dari kegiatan ini dan pulang mengantar roti lagi?

Astagfirullah! Baru teringat olehku roti yang diamanati ibu. Dimana keranjangku? Ada mushaf kesayanganku didalamanya. Dan pasti roti itu sudah lembab dan tidak harum lagi.

Aku bangkit dan melihat gerakanku yang tiba-tiba, Julia langsung menengadah.

“Julia, k-kau melihat keranjang rotan berisi roti?”

“Keranjang?” ia menggaruk dagu dengan telunjuknya.

“Tenanglah orang alim. Roti itu dihangatkan Bunda ketika pagi dan tidak akan dimakan oleh kami.” Antonio menjawab namun dengan gaya yang ‘masa bodoh’. Ia mengambil kembali panah dipunggunggungnya.

“Kau tahu darimana? Kau tidak melihat isinya, ‘kan?” aku bertanya dengan panik.

“Apa yang kau bayangkan jika seorang lelaki menemukan tas gadis yang misterius?” ia membidik panahnya. Menutup satu mata sambil menarik tali busur.

“Aku harus kembali kerumah.”

“Jangan, Bunda saat ini sedang beres-beres.” Julia menarik tanganku.

“Bukan. Maksudku kembali kerumahku di Den Village. Roti itu mesti kuantar.”

“Masih kau pikirkan roti itu. Yang penting itu pikirkan dulu bagaimana kau bisa pulang.” Antonio melepaskan tali busur. Panah melesat sebelum menghilang dan suara jatuh terdengar dari balik semak-semak. “Kuda dipakai oleh Paman Gerald. Paling kau baru bisa pulang besok.”

Apa? Besok? Dia pikir ini hal sepele? Enteng sekali ia bicara.

“Kalau begitu aku ingin mencari bukit. Maaf Julia, kau temani saja Tony disini. Aku ingin sendiri.” Kujauhi mereka memasuki hutan yang lebih rapat pepohonannya. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Seolah-olah aku ingin mendengus dan memukul lelaki itu dengan sepatuku. Gaya bicaranya membuatku emosi. Sabar, sabar.

Kupandangi hutan yang kebanyakan adalah pohon ek dan cemara. Tanah lembab dan becek akibat hujan kukira tak sampai ke hutan. Aku ingin mencari bukit yang paling tinggi sehingga bisa tahu dimana letak kota. Awan begitu indah membentuk gumpalan kapas yang mengumpul. Kulihat matahari. Masih jauh jaraknya ke atas kepala, waktu Zuhur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 8: Diary April

Chapter 8 Diary April   A ku sebal dengan Samuel!! Ia menjatuh...